1. Definisi Kepemimpinan
- Howard H. Yord mengatakan bahwa kepemimpinan adalah kegiatan memengaruhi orang lain untuk bekerja sama dalam rangka mencapai ujuan organisasi. Dengan kata lain, kepemimpinan adalah seni memengarugi tingkah laku manusia.
- Kepemimpinanmerupakan suatu kemampuan yang melekat pada diri seorang yang memimpin dan bergantung pada macam-macam faktor, baik faktor intern maupun faktor ekstern.
- Kepemimpinan adalah keterampilan dan kemampuan seseorang memengaruhi perilaku orang lain, baik yang kedudukannya lebih tinggi maupun lebih rendah darinya dalam berpikir dan bertindak agar perilaku yang semula mungkin individualistik dan egosentrik berubah menjadi perilaku organisasional (Siagian, 1986: 12).
- Kepemimpinan adalah kemampuan seorang pemimpin untuk mengendalikan, memimpin, memengaruhi pikiran, perasaan, atau tingkah laku orang lain untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya (Suradinata, 1997: 11).
- Keith Davis mengatakan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan membujuk orang lain untuk mencapai tujuan yang tegas.
- Kepemimpinan adalah proses pengarahan dan memengaruhi aktivitas yang berkaitan dengan tugas anggota kelompok. Sebagai implikasi dari definisi adalah: a. kepemimpinan melibatkan orang lain, yang berkedudukan sebagai bawahan atau pengikut; b. perbedaan distribusi kekuasaan, misalnya kekuasaan legalitas untuk pemimpin formal atau kekuasaan paksaan untuk manajer, dan sebagainya.
- Menurut Peter G. Northouse yaitu "... is a process whereby an individual influences a group of individuals to achieve a common goal" (proses seorang individu memengaruhi sekelompok individu guna mencapai tujuan bersama). Melalui definisi singkat ini, Northouse mengarisbawahi sejumlah konsep penting dalam definisi kepemimpinan, yaitu: a. kepemimpinan merupakan sebuah proses; b. kepemimpinan melibatkan pengaruh; c. kepemimpinan muncul di dalam kelompok; d. kepemimpinan melibatkantujuan bersama; e. kepemimpinan adalah proses memengaruhi atau memberi teladan kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi; f. kepemimpinan adalah kemampuan seseorang memengaruhi dan memotivasi orang lain untuk melakukan sesuatu sesuai tujuan bersama.
2. Pentingnya Kepemimpinan dalam perusahaan
Kiranya
tidak dapat disangkal bahwa keberhasilan suatu organisasi baik sebagai
keseluruhan maupun berbagai kelompok dalam suatu organisasi tertentu, sangat
tergantung pada mutu kepemimpinan yang terdapat dalam organisasi yang
bersangkutan. Bahkan kiranya dapat diterima sebagai suatu “trueisme” apabila
dikatakan bahwa mutu kepemimpinan yang terdapat dalam suatu organisasi
memainkan peranan yang sangat dominan dalam keberhasilan organisasi tersebut
menyelenggarakan berbagai kegiatannya.
Hal
senada dapat pula di katakan tentang organisasi-organisasi di lingkungan
pemerintahan yang tanggung jawab utamanya adalah menyelenggarakan tugas-tugas
pengaturan dan pemberian pelayan kepada masyarakat.Mutu peraturan menjadi dasar
kerja para anggota aparatur pemerintah sangat ditentukan oleh persepsi, wawasan
dan profesionalisme para perumus peraturan perundang-undangan tersebut tentunya
kemudian diikuti oleh berbagai kebijaksanaan teknis dan kebijaksanaan
operasional sesuai dengan bidang tanggung jawab fungsional masing-masing.
Demikian pula halnya dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat “clientele
groups” sesuatu instalasi. Agar pelayanan yang diberikan kepada masyarakat yang
membutuhkannya dengan cepat dan memuaskan – tanpa mengabaikan kecermatan,
ketelitian dan terjaminnya pengamanan kebijaksanaan pemerintah – mutu
kepemimpinan memegang peranan yang sangat menentukan.
3. Fungsi Kepemimpinan dalam perusahaan
Fungsi artinya jabatan (pekerjaan) yang dilakukanatau kegunaan sesuatu hal atau kerja suatu bagian tubuh. Sedangkan fungsi kepemimpinan berhubungan langsung dengan situasi sosial dalam kehidupan kelompok/organisasi masing-masing, yang mengisyaratkan bahwa setiap pemimpin berada di dalam dan bukan di luar situasi itu. Fungsi kepemimpinan merupakan gejala sosial, karena harus diwujudkan dalam interaksi antarindividu di dalam situasi sosial suatu kelompok/organisasi. Fungsi kepemimpinan memiliki dua dimensi seperti:
- Dimensi yang berkenaan dengan tingkat kemampuan mengarahkan (direction) dalam tindakan atau aktivitas pemimpin.
- Dimensi yang berkenaan dengan tingkat dukungan (support) atau keterlibatan orang0orang yang dipimpin dalam melaksanakan tugas-tugas pokok kelompok/organisasi.
- Fungsi instruksi. Fungsi ini bersifat komunikasi satu arah. Pemimpin sebagai komunikator merupakan pihak yang menentukan apa, bagaimana, bilamana, dan di mana perintah itu dikerjakan agar keputusan dapat dilaksanakan secara efektif. Kepemimpinan yang efektif memerlukan kemampuan untuk menggerakkam dan memotivasi orang lain agar mau melaksanakan perintah.
- Fungsi konsultasi. Fungsi ini bersifat komunikasi dua arah. Pada tahap pertama dalam usaha menetapkan keputusan, pemimpin kerapkali memerlukan bahan pertimbangan, yang mengharuskannya berkonsultasi dengan orang-orang yang dipimpinnya yang dinilai mempunyai berbagai bahan informasi yang diperlukan dalam menetapkan keputusan. Tahap berikutnya konsultasi dari pimpinan pada orang-orang yang dipimpin dapat dilakukan setelah keputusan ditetapkan dan sedang dalam pelaksanaan. Konsultasi itu dimaksudkan untuk memperoleh masukan berupa umpan balik (feedback) untuk memperbaiki dan menyempurnakan keputusan-keputusan yang telah ditetapkan dan dilaksanakan. Dengan menjalankan fungsi konsultatif dapat diharapkan keputusan-keputusan pimpinan akan mendapat dukungan dan lebih mudah menginstruksikannya, sehingga kepemimpinan berlangsung efektif.
- Fungsi partisipaso. Dalam menjalankan fungsi ini pemimpin berusaha mengaktifkan orang-orang yang dipimpinnya, baik dalam keikutsertaan mengambil keputusan maupun dalam melaksanakannya. Partisipasi tidak berarti bebas berbuat semaunya, tetapi dilakukan secara terkendali dan terarah berupa kerja sama dengan tidak mencampuri atau mengambil tugas pokok orang lain. Keikutsertaan pemimpin harus tetap dalam fungsi sebagai pemimpin dan bukan pelaksana.
- Fungsi delegasi. Fungsi ini dilaksanakan dengan memberikan pelimpahan wewenang membuat/menetapkan keputusan, baik melalui persetujuan maupun tanpa persetujuan dari pimpinan. Orang-orang penerima delegasi itu harus diyakin merupakan pembantu pemimpin yang memiliki kesamaan prinsip, perspsi, dan aspirasi.
- Fungsi pengendalian. Fungsi pengendalian bermaksud bahwa kepemimpinan yang sukses/efektif mampu mengatur aktivitas anggotanya secara terarah dan dalam koordinasi yang efektif sehingga memungkinkan tercapainya tujuan bersama secara maksimal. Fungsi pengendalian dapat diwujudkan melalui kegiatan bimbingan, pengarahan, koordinasi, dan pengawasan.
d. Gaya Kepemimpinan dan impilkasinya pada perusahaan
Gaya artinya sikap, gerakan, tingkah laku, sikap yang elok, gerak-gerik yang bagus, kekuatan, kesanggupan untuk berbuat baik.
Sedangkan gaya kepemimpinan adalah sekumpulan ciri yang digunakan pimpin untuk memengaruhi bawahan agar sasaran organisasi tercapai atau dapat pula dikatakan bahwa gaya kepemimpinan adalah pola perilaku dan strategi yang disukai dan sering diterapkan oleh seorang pemimpin.
Gaya kepemimpinan ada;ah pola menyeluruh dari tindakan seorang pemimpin, baik yang tampak maupun tidak tampak oleh bawahannya. Gaya kepemimpinan menggambarkan kombinasi yang konsisten dari falsafah, keterampilan, sifat, dan sikap yang mendasari perilaku seseorang. Gaya kepemimpinan yang menunjukkan, secara langsung maupun tidak langsung, tentang keyakinan seorang pimpinan terhadap kemampuan bawahannya. Artinya gaya kepemimpinan adalah perilaku dan strategi, sebagai hasil kombinasi dari falsafah, keterampilan, sifat, sikap, yamg sering diterapkan seorang pemimpin ketika ia mencoba memengaruhi kinerja bawahannya.
Sehingga gaya kepemimpinan yang paling tepat adalah suatu gaya yang dapat memaksimumkan produktivitas, kepuasan kerja, pertumbuhan, dan mudah menyesuaikan dengan segala situasi.
Gaya kepemimpinan merupakan dasar dalam mengklarifikasikan tipe pemimpin. Gaya kepemimpinan memiliki tiga pola dasar, yaitu yang mementingkan pelaksaan tugas, yang mementingkan hubungan kerja sama, dan yang mementingkan hasil yang dapat dicapai.
Pada 1930-an ada yang berpendapat bahwa gaya kepemimpinan sebagai suatu rangkaian kesatuan yang didasarkan pada derajat pembagian kekuasaan dan pengaruh antara pimpinan dan bawahan. Dalam rangkaian tersebut dapat diidentifikasi empat gaya kepemimpinan dasar, yaitu mengatakan, menjual, konsultasi, dan bergabung. Mengatakan adalah gaya kepemimpinan otokratis, sedangkan bergabung adalah gaya kepemimpinan yang demokratis. Menurut pendapat ini gaya kepemimpinan bukanlah pendekatan kepemimpinan yang terbaik dalam semua situasi, mereka lebih menyarankan penggunaan semua gaya, mulai dari mengatakan sampai bergabung.
Untuk menentukan gaya yang paling efektif dalam menghadapi keadaan tertentu maka perlu mempertimbangkan kekuatan yang ada dalam tiga unsur yaitu diri pemimpin, bawahan, dan situasi secara menyeluruh.
Pada 1960-an berkembang teori kepemimpinan yang dinamakan "pola manajerial". Kepemimpinan dipengaruhi oleh dua perhatian manajerial yang mendasar, yaitu perhatian terhadap produksi/tugas dan perhatian terhadap manusia. Menurut teori ini ada empat gaya dasar kepemimpinan: (1) gaya manajemen tugas, pemimpin menunjukkan perhatian tinggi terhadap produksi, tetapi perhatian rendah terhadap manusia, (2) gaya manajemen country club, pemimpin memperlihatkan perhatian yang tinggi terhadap manusia, tetapi perhatian rendah terhadap produksi, (3) gaya manajemen miskin, pemimpin tidak terlalu menunjukkan perhatian, baik terhadap produksi maupun manusia, (4) gaya maajemen tim, pemimpin menunjukkan perhatian tinggi terhadap produksi maupun terhadap manusia. Menurut teori ini gaya manajemen tim, yang pada dasarnya sama dengan gaya demokratis merupakan gaya kepemimpinan yang terbaik untuk semua orang dalam segala situasi.
Sementara itu, menurut Contigency Theory Leadership menyatakan bahwa ada kaitan antara gaya kepemimpinan dengan situasi tertentu yang dipersyaratkan. Menurut teori ini seorang pemimpin akan efektif jika gaya kepemimpinannya sesuai dengan situasi yang terjadi. Pendekatan ini menyarankan bahwa diperlukan dua perangkat perilaku untuk kepemimpinan yangefektif yaitu perilaku tugas dan perilaku hubungan. Dengan kedua perangkat ini maka kemungkinan akan melahirkan empat gaya kepemimpinan, yaitu: (1) mengarahkan, gaya kepemimpinan ini perilaku tugas tinggi, perilaku hubungan rendah, (2) menjual, perilaku tugas maupun perilaku hubungan sama tinggi, (3) ikut serta, perilaku tugas rendah, sedangkan perilaku hubungan tinggi, (4) mendelegasikan, baik perilaku tugas maupun perilaku hubungan sama rendah.
Sedangkan pakar manajemen modern berpendapat bahwa gaya kepemimpinan yang tepat adalah suatu gaya yang dapat menyatukan tiga variabel situasional, yaitu hubungan pimpinan dan anggota, struktur tugas, serta posisi kekuasaan sehingga dapat dikatakan bahwa gaya kepemimpinan yang terbaik adalah jika posisi kekuasaan itu moderat.
Path-Goal sepaham dengan pendapat di atas, bahwa suksesnya seorang pemimpin tergantung pada kemampuannya dalam menyesuaikan gaya kepemimpinannya dengan lingkungan dan karakteristik individual bawahannya.
DAFTAR PUSTAKA
- Drs. Beni Ahmad Saebani, M.Si., Ii Sumantri, M.Ag. 2014. "Kepemimpinan". Bandung: Pustaka Setia
- Siagian, Sondang P.2010. “Teori & Praktik Kepemimpinan”.Jakarta:Rineka Cipta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar